Penulis: Ansel Deri
(*Wartawan Senior dan Penulis Buku)
Di Suntuk waktu tahun 1982 helikopter seperti melakukan manuver di langit selatan Pulau Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT). Helikopter meraung-raung di atas langit Labalekan, gunung tertinggi di Kabupaten Lembata, NTT. Helikopter itu bukan melakukan manuver menghalau musuh. Bukan. Nipon (Jepang) sudah pergi jauh dari tanah Lepanbatan (Lembata), nusa paus.
Burung besi kecil itu bukan menghadang musuh kumpeni Jepang yang kisahnya masih membekas dari bibir orangtua kami kala itu. Tak hanya lagu kebangsaan, Kimigayo atau Hinomaru, bendera kebangsaan Jepang, negeri para kaisar, yang akrab dalam kisah yang menempel dalam gendang telinga kami anak-anak kala itu.
Helikopter itu membawa Wakil Presiden ke-3 Republik Indonesia periode 23 Maret 1978 – 11 Maret 1983 H. Adam Malik Batubara dan istrinya, Hj. Nelly Adam Malik. Helikopter itu bukan mendarat di Boto, Ibu Kota Nagawutun (IKN) kala itu. Helikopter itu menyentuh bibir sebuah lahan kosong di Kompleks (sebutan lokasi konsentrasi pengungsi bencana longsor Waiteba, Kecamatan Atadei), (kini) Loang, Ibu Kota Nagawutun alias IKN.
Pasca bencana longsor Waiteba, pengungsi menumpuk di Loang, Orang-orang dewasa dan anak-anak berada dalam pengawasan Camat Nagawutun Hilarius Hali Ruing, BA beserta jajarannya. Hali Ruing adalah putra Lembata yang berdinas di Kabupaten Flores Timur, NTT, kala itu.
Kegundahan melanda Petrus Notan Botoor, Kepala SDK Loang. Anak-anak korban pengungsi menyusul banjir yang melanda Waiteba, ibu Kota Kecamatan Atadei kala itu, mesti diselamatkan.
“Saat itu saya baru lulus SPG dan mengikuti kaka sulung, Yan Lele Mudaj, yang sedang mengajar di SDK Loang, sekolah yang beliau rintis,” ujar Sr Maria Thresiani, SND, biarawati Sisters of Notre Dame (SND) atau Susteran Bunda Maria.

Menurut Sr Thresiani (Theresia Lema Mudaj, nama aslinya), saat itu ia bersama rekan gurunya, Ambrosia dari Waiteba, Atadei, memulai merintis TK Loang khusus anak-anak dari keluarga korban bencana Waiteba. Setiap hari ibu guru Thresia dan Amboria mengajar anak-anak dari posko ke posko setelah dikumpulkan di posko.
“Pak Piet Notan Botoor meminta kami mengajar anak-anak keluarga korban bencana. Kami mengajar secara sukarela. Kemudian rekan guru lain, ibu Fransiska bergabung dengan kami untuk mengajar anak-anak ini,” kata Sr Thresiani, biarawati yang kini mengabdi di komunitas SND di Banjarmasin, Kalimantan Selatan.
Suster Thresian mengaku kala itu ia tak menyangka, Wakil Presiden ke-3 RI H. Adam Malik Batubara dan Ny Nelly Adam Malik berkesempatan melihat dari dekat kondisi korban longsor Waiteba di Kompleks Loang II.
Baik Wakil Presiden H. Adam Malik dan Ny Nelly Adam Malik juga terharu melihat kondisi anak-anak pengungsi yang masih sempat diperhatikan melalui TK Loang. Inisiatif Piet Notan Botoor menghadirkan TK Loang yang diurus ibu guru Thresiani, Ambrosia, dan Fransiska.
“Ibu Nelly Adam Malik menghadiai kami satu unit tape recorder kecil. Tape itu kami bawa setiap kali kami mengajar anak-anak di posko-posko secara bergantian. Kami buka lagu-lagu pake tape recorder dengan batere Everedy,” kata Sr Thresiani, biarawati yang lama mengabdi di sekolah di Pekalongan, Jakarta, dan Yogyakarta.
Sr Thesiani menambahkan, aaat menerima tape recorde itu dari ibu Nelly Adam Malik, ia memohon ijin agar namanya diabadikan TK Loang. Maka jadilah TK Loang ini kini bernama TK Nelly Adam Malik.
“Untungnya Ibu Nelly Adam Malik tidak keberatan Namanya diabadikan sebagai nama TK Loang. Saat itu, tak ada pilihan bagi kami membalas kebaikan hati Ibu Nelly. Jadi, spontan saja saya beritahu kalau nama TK Loang berganti jadi TK Nelly Adam Malik,” ujar Sr M Thresiani, biarawati asal Kampung Kluang (Boto), Nagawutung.
Langkah ibu guru Thresia mengabadikan nama sekolah jadi TK Nelly Adam Malik juga disetujui Camat Hilarius Hali Ruing, BA; Kepala SDK Loang Piet Notan Botoor; Kepala UPTD Nagawutun Yohanes (Yan) Beda Waleng maupun penilik sekolah Kecamatan Nagawutun Yohanes (Yan) Beda Wura bahkan mantan Kepala UPTD Nagawutun Zakarias Lako.
“Ibu Nelly Adam Malik adalah pahlawan pendidikan sesungguhnya bagi dunia pendidikan di Indonesia melalui perjumpaan yang penuh sejarah bagi anak-anak di tanah Lembata,” kata Sr Theresiani.
Kunjungan Wakil Presiden ke-3 RI H. Adam Malik dan Ibu Nelly di IKN puluhan tahun silam adalah sejarah yang tak akan pernah hilang dari memori kolektif masyarakat Lembata, khususnya yang tinggal di Nagawutun. Sejarah kemudian tercipta dengan kehadiran Presiden ke-7 RI Bapak H. Joko Widodo di Lembata tahun pada 9 April 2021.
Terima kasih, Bapak H. Adam Malik dan Ibu Hj Nelly Adam Malik. Terima kasih, Pak Joko Widodo. Kami menunggu kunjungan resmi Bapak Presiden H. Prabowo Subianto dan Wakil Presiden mas Gibran Rakabuming Raka di Lembata, nusa paus.
Selamat Hari Pahlawan Tahun 2025.
