Bekasi》Jagamerahputih.com — Kecelakaan antara KRL Commuter Line dan KA Argo Bromo Anggrek di Stasiun Bekasi Timur, Bekasi, Jawa Barat. Peristiwa ini melibatkan kereta rel listrik (KRL) dan KA Argo Bromo Anggrek relasi Gambir–Surabaya Pasar Turi pada Senin (27/4/2026).
Insiden diduga berawal dari gangguan di perlintasan setelah sebuah taksi tertemper KRL di JPL 85 sekitar pukul 20.50 WIB, yang kemudian memicu rangkaian kejadian hingga tabrakan antar kereta. Akibat kecelakaan tersebut, tujuh orang meninggal dunia, puluhan penumpang mengalami luka-luka, dan beberapa korban sempat terperangkap di dalam kereta. Proses evakuasi berlangsung selama kurang lebih delapan jam karena dilakukan secara hati-hati untuk menjaga keselamatan korban.
Kronologi Kecelakaan
PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi 1 Jakarta menjelaskan bahwa peristiwa kecelakaan ini tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan melalui rangkaian kejadian yang saling berkaitan. Insiden awal terjadi ketika sebuah taksi berhenti di tengah lintasan kereta di perlintasan JPL 85. Tak lama kemudian, kendaraan tersebut tertemper oleh KRL yang melintas.
Akibat kejadian tersebut, KRL berhenti di sekitar lokasi dan menyebabkan gangguan pada jalur. Di waktu yang hampir bersamaan, terdapat KRL lain yang juga terhenti di area Stasiun Bekasi Timur akibat dampak dari insiden tersebut. Kondisi ini menciptakan situasi tidak normal pada operasional perjalanan kereta api di lintas tersebut.
Dalam kondisi jalur yang terganggu itu, KA Argo Bromo Anggrek yang melaju dari arah Gambir menuju Surabaya Pasar Turi kemudian menabrak rangkaian KRL yang berada di lintasan. Tabrakan terjadi dengan sangat keras hingga menyebabkan kerusakan parah, terutama pada bagian belakang KRL.
“Yang ditabrak gerbong paling belakang, gerbong khusus wanita itu yang paling belakang,” ujar Andi (42), di Stasiun Bekasi Timur, dikutip Antara, Senin (27/4).
Benturan keras tersebut membuat gerbong khusus wanita di bagian paling belakang mengalami kerusakan paling parah. Setelah kejadian, penumpang yang berada di dalam kereta berupaya menyelamatkan diri dengan berbagai cara, termasuk memecahkan kaca jendela untuk keluar dari dalam gerbong.
Dugaan Penyebab Kecelakaan
Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (KAI) Bobby Rasyidin menjelaskan bahwa berdasarkan identifikasi sementara, kecelakaan ini diduga kuat dipicu oleh gangguan yang berasal dari insiden awal di perlintasan.
“Perlu saya sampaikan juga kejadian ini di jam kurang jam 21.00 WIB kurang, dimulai dengan adanya temperan taksi hijau ya, itu di JPL 85. Sehingga ini yang kami curigai itu membuat sistem perkeretaapian di daerah stasiun emplasemen Bekasi Timur ini agak terganggu. Sementara itu kronologinya,” ungkap Bobby.
Gangguan pada sistem operasional di emplasemen Stasiun Bekasi Timur tersebut diduga menjadi faktor yang membuat situasi tidak terkendali hingga akhirnya terjadi tabrakan antara KRL dan KA jarak jauh. Meski demikian, pihak KAI menegaskan bahwa penyebab pasti kecelakaan ini masih menunggu hasil investigasi mendalam dari Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT).
“Tentunya kami menyerahkan kepada KNKT untuk lebih detail mencari tahu penyebab dari kecelakaan kereta pada malam hari ini,” tuturnya. (**)
