Jakarta》Jagamerahputih.com — Kabar mengejutkan datang dari dunia bulu tangkis Tanah Air. Untuk kali pertama dalam sejarah panjang keikutsertaan di ajang beregu paling bergengsi, tim Thomas Indonesia dipastikan tersingkir di fase grup dan gagal melangkah ke babak perempat final atau delapan besar.
Hasil pahit ini terjadi setelah Indonesia menelan kekalahan telak 1-4 dari Prancis dalam laga penentuan yang berlangsung di Forum Horsens, Rabu (29/4) dini hari WIB.
Kekalahan ini menjadi salah satu hasil paling mengejutkan sekaligus menyakitkan dalam sejarah tim berjuluk “Raja Thomas”.
Sebelumnya, Indonesia sempat menjaga asa setelah meraih kemenangan atas Thailand (3-2) dan Aljazair (5-0). Namun, kekalahan telak dari Prancis membuat Indonesia terjebak dalam situasi three-way tie dengan Thailand dan Prancis, di mana ketiga tim memiliki jumlah kemenangan yang sama.
Penentuan klasemen akhirnya ditentukan melalui agregat kemenangan partai, dan Indonesia harus tersingkir karena kalah selisih.
Laga melawan Prancis sendiri berlangsung dramatis, terutama pada partai ketiga yang menjadi titik krusial harapan Indonesia. Anthony Sinisuka Ginting yang turun sebagai tunggal putra ketiga sempat membuka peluang setelah merebut gim pertama dengan skor ketat 22-20 atas Toma Junior Popov.
Namun, momentum tersebut gagal dipertahankan. Memasuki gim kedua, stamina Ginting mulai terkuras dan kesalahan-kesalahan sendiri meningkat, memungkinkan Popov menyamakan kedudukan dengan kemenangan 21-15. Pertarungan mencapai puncaknya di gim penentuan, di mana Ginting sempat unggul jauh 11-6 saat interval.
Sayangnya, keunggulan tersebut tidak mampu dipertahankan. Popov menunjukkan mental baja dengan perlahan mengejar ketertinggalan melalui reli-reli panjang dan permainan agresif. Dalam momen-momen krusial, Ginting akhirnya harus menyerah dengan skor tipis 20-22, sekaligus memastikan gugurnya Indonesia dari turnamen.
Kekalahan Indonesia sudah diawali sejak partai pertama. Jonatan Christie yang turun sebagai kapten tim harus mengakui keunggulan Christo Popov dalam dua gim langsung dengan skor 19-21 dan 14-21. Pada partai kedua, Alwi Farhan juga gagal menyumbang poin setelah dikalahkan Alex Lanier 16-21 dan 19-21.
Sektor ganda yang selama ini menjadi andalan Indonesia pun tidak mampu membendung dominasi Prancis. Pasangan Sabar Karyaman Gutama/Reza Pahlevi Isfahani kalah dua gim langsung dari Eloi Adan/Leo Rossi dengan skor identik 19-21, 19-21. Satu-satunya poin didapatkan pasangan Fajar Alfian/Shohibul Fikri yang berhasil mengalahkan Christo Popov/Toma Junior Popo dengan skor 2-1.
Rekam Jejak Indonesia sejak Pertama Kali Bergulirnya Piala Thomas (1958)
Kegagalan ini terasa semakin pahit jika melihat rekam jejak gemilang Indonesia di ajang Piala Thomas. Sejak pertama kali berpartisipasi pada 1958, Indonesia langsung menunjukkan dominasinya dengan meraih gelar juara, dan kemudian menjelma menjadi negara tersukses dalam sejarah turnamen ini.
Secara keseluruhan, Indonesia telah mengoleksi 14 gelar juara Piala Thomas, menjadikannya pemegang rekor terbanyak sepanjang sejarah. Era keemasan Indonesia berlangsung panjang, mulai dari dekade 1960-an hingga awal 2000-an, dengan deretan pemain legendaris yang mendominasi dunia bulu tangkis.
Tak hanya soal gelar, konsistensi Indonesia juga menjadi ciri khas. Dalam format modern sejak 1984, Indonesia hampir tidak pernah absen menembus babak gugur. Bahkan, sebagian besar penampilan berakhir minimal di semifinal, menegaskan statusnya sebagai kekuatan utama dunia.
Kegagalan paling mencolok sebelumnya terjadi pada edisi 2012, ketika Indonesia hanya mampu mencapai perempat final dan gagal menembus empat besar. Namun, saat itu pun Indonesia tetap berhasil lolos dari fase grup.
Prestasi terakhir Indonesia menunjukkan bahwa tradisi juara belum sepenuhnya hilang. Pada edisi 2020 (yang digelar 2021), Indonesia sukses merebut kembali trofi juara setelah mengalahkan China di partai final.
Dengan latar belakang sejarah yang begitu kuat, tersingkirnya Indonesia di fase grup pada edisi kali ini menjadi anomali besar yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Kegagalan ini menjadi tamparan keras bagi Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI). Status Indonesia sebagai negara tersukses dalam sejarah Piala Thomas kini tercoreng oleh hasil yang belum pernah terjadi sebelumnya.Tersingkirnya Indonesia di fase grup dipastikan akan memicu evaluasi besar-besaran, khususnya di Pelatnas Cipayung.
Selain faktor teknis, aspek stamina, mental bertanding, hingga regenerasi pemain diperkirakan akan menjadi sorotan utama.
Kekalahan ini bukan hanya soal hasil pertandingan, tetapi juga menjadi penanda bahwa peta persaingan bulu tangkis dunia semakin merata. Negara-negara non-tradisional seperti Prancis kini mampu tampil kompetitif dan bahkan mengalahkan raksasa seperti Indonesia secara meyakinkan.
Malam kelam di Horsens akan tercatat sebagai salah satu titik terendah dalam sejarah tim Thomas Indonesia, sebuah momen yang diharapkan menjadi titik balik untuk kebangkitan di masa mendatang. (**)
